Februari 17, 2017

Arti lambang Kota Palembang

Menyimak Arti Lambang Kota Palembang

 Bangunan Sirah yaitu rumah Palembang warna asli merah tua coklat dengan pinggiran keemasan berikut 2x (4+5) = 18 tanduk lembaran daun teratai. Ditengah atasan terdapat kembang melati yang belum mekar, berikut simbar yang melambangkan kerukunan kekeluargaan dan kesejahteraan Kota Palembang disegala zaman.

Puncak rebung warna kuning keemasan, melambangkan kemuliaan dan keagungan. Jumlah 8 buah, melambangkan kemuliaan dan keagungan. Jumlah 8 buah, melambangkan bulan Agustus yang bersejarah, bulan Proklamasi yang mengingatkan perjuangan Kemerdekaan RI. Segi tiga ialah sebuah Bukit yang termasyur di Palembang dengan nama BUKIT SIGUNTANG berwarna hijau berikut sinar keemasan, melambangkan tanggal 17 hari Proklamsi Kemerdekaan RI. Bukit Siguntang adalah tempat kesucian dimasa zaman purbakala yaitu diabad ke VII s/d XII terdapat kumpulan candi-candi, kuil-kuil dan Perguruan Tinggi dikunjungi oleh Pendeta-pendeta dan pelajar-pelajar di seluruh Asia.[

Februari 16, 2017

PALEMBANG TEMPOE DOLOE

Mengenang Kota Palembang Dalam Photo











Asal-Usul Nama Kota Palembang

 

Myth Dunia mengenal dan mempelajari mitos-mitos yang tersebar dan berkembang di seluruh dunia

Wednesday, 11 July 2012

Asal-Usul Nama Kota Palembang 

 Arti Nama Palembang

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisBLqY3vfG3XOioFTvmhVOdnjPtRv1GAo-Wq0Ro5BwK6RUsYvQW6uxm0qSqIkDPuY93xIbW3d_h-YyqDr6EU3RVOuj6itMFCz07Zdal6mNLJX7z-2q-0pwjRMPindMjwREl4Ts2A3b-xkI/s1600/ampera311gi6.jpg

Nama Palembang banyak mempunyai arti dari berbagai sumber para ahli. Mereka mengatakan kata tersebut berasal dari Lembang atau Lembeng, yaitu tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air.

Untuk arti lain dari Lembang adalah tidak tersusun rapi, terserak-serak. Sedangkan menurut bahasa Melayu, lembang berarti air yang merembes atau rembesan air. Arti Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.

Menurut sumber lainnya, Palembang berarti tempat tanah yang dihanyutkan ke tepi, atau tanah yang terdampar. Pengertian Palembang tersebut kesemuanya menunjukkan tanah yang berair.

lni tidak jauh dari kenyataan yang ada, bahkan pada saat sekarang, yang dibuktikan oleh data statistik tahun 1990, bahwa masih terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang. Sebagai catatan tambahan, di Kotamadya sekarang ini masih tercatat sebanyak 117 buah anak-anak sungai yang mengalir di tengah kota.

Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien, dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:

• Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan

• Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah

• Daerah pesisir timur laut

Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat menentukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara.

 Lahirnya Nama Palembang

Kapan nama Palembang “lahir”, tepatnya belum dapat diperkirakan. Apakah nama ini lahir sejak Sriwijaya runtuh, atau sebaliknya, nama Palembang lahir lebih dahulu sebelum nama Sriwijaya “lahir”?

Banyak sumber-sumber sejarah di zamannya yang menentukan lahirnya kota Palembang. Seperti sumber kronik China, Jawa, Islam, dan Melayu. Namun, sumber-sumber tersebut masih simpang siur dalam penentuannya. Yang jelas, dari sumber-sumber tersebut, tercatat dari tahun 1225 hingga di tahun 1612.

Sejarah Melayu aslinya ditulis sekitar tahun 1511, ditulis kembali dari pelbagai versi, antaranya oleh Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi yang menulis kembali teks tahun 1612. Teks yang menceritakan Palembang dari Sejarah Melayu:

“….. ada sebuah negeri di tanah Andalas, Perlembang namanya, Demang Lebar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak-cucu Raja Sulan; Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Seguntang Mahameru namanya.”


Sejarah dan Perkembangan Palembang

http://arifyudisejarah2006.files.wordpress.com/2009/01/kedukan-bukit.jpg?w=300&h=215

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, berumur setidaknya 1324 tahun, hal ini berdasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M), yang ditemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah Wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5 bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Prasasti Batu bersurat, ditemukan oleh Controleur Batenberg di tepi sungai Kedukan Bukit, yakni diantara Bukit Siguntang dengan Situs Karanganyar pada tahun 1926 dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno. Prasasti tersebut oleh penduduk kampung Kedukan Bukit waktu itu dijadikan semacam tumbal bila akan mengikuti lomba Bidar, yakni dengan cara meletakkan di haluan Bidar yang akan diperlombakan.

Konon, Bidar atau Perahu yang digentoli dengan batu “sakti-bertuah” itu senantiasa menang berlomba. Kemudian Batu-bersurat Kedukan Bukit itu ditelaah oleh para pakar sejarah dan kebudayaan, diantaranya Prof. M. Yamin yang menyatakan, itulah proklamasi (penggalian/pemindahan) ibukota Sriwijaya (dari tempat lain) ke Bukit Seguntang.

Prasasti Kedukan Bukit itu berbunyi sebagai berikut :

1. Swasti cri cakawarsatita 605 ekadaci cu
2. Klapaksa wulan waicakha dapunta hiyang nayik di
3. samwau manalap siddhayatra disaptami cuklapaksa
4. Wulan jyesta dapunta hiyang marlapas dari Minanga
5. Tamvan mamawa yam wala dualaksa danan koca
6. Duaratus cara di samwau danan jalan sariwu
7. Tluratus sapulu dua wannakna datam di Mukha Upang
8. Sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan
9. Laghu mudita datam marwuat wanua
10. Criwijava siddhayatra subhiksa.

(Sumber : Prof. Poerbacaraka, G. Coedes, Prof. Dr. Ph.S. Van Ronkel Dr. Buchari, Prof. Slametmulyana)

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik.

Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.


Hubungan Palembang dengan Kerajaan Sriwijaya

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2008/08/01/2922799p.jpg

Sriwijaya, seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi, yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas.

Pusat pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini diperoleh oleh para pemimpin setempat (dalam istilah Sriwijaya sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.

Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :

“...Negara ini terletak di Laut Selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah di pelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.”

Tentunya banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya. Pelaut-pelaut asing seperti Cina, Arab, dan Parsi, mencatat seluruh perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengar. Jika pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris.

Kota Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001 malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak.

Sedangkan bagi pemimpin hidup berumah di tanah kering di atas rumah yang bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau Ku-kang (berarti pelabuhan lama). Setelah mengalami kejayaan diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami keruntuhan secara perlahan-lahan.

Keruntuhan Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.
Dari sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggalah Palembang sebagai satu kekuatan tersendiri yang dikenal sebagai kerajaan Palembang. Menurut catatan Cina raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim dutanya menghadap kaisar Cina tahun 1374 dan 1375.

Maharaja ini barangkali adalah raja Palembang terakhir, sebelum Palembang dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara dengan para pengikutnya hijrah ke semenanjung, dimana ia singgah lebih dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam.

Dari Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka. Setelah membina kerajaan ini dengan gaya dan cara Sriwijaya, maka Melaka menjadi kerajaan terbesar di nusantara setelah kebesaran Sriwijaya. Palembang sendiri setelah ditinggalkan Parameswara menjadi chaos.

Majapahit tidak dapat menempatkan adipati di Palembang, karena ditolak oleh orang-orang Cina yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut Palembang sebagai Ku-Kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok cina yang terusir dari Cina Selatan, yaitu dari wilayah Nan-hai, Chang-chou dan Changuan-chou.

Meskipun setiap kelompok ini mempunyai pemimpin sendiri, tetapi mereka sepakat menolak pimpinan dari Majapahit dan mengangkat Liang Tau-ming sebagai pemimpin mereka. Pada masa ini Palembang dikenal sebagai wilayah yang menjadi sarang bajak laut dari orang-orang Cina tersebut. Tidak heran jika toko sejarah dan legendaris dari Cina, yaitu Laksamana Chen-ho terpaksa beberapa kali muncul di Palembang guna memberantas para bajak laut ini.

Pada tahun 1407 setelah kembali dari pelayarannya dari barat, Chen-ho sendiri telah menangkap toko bajak laut dari Palembang yaitu Chen Tsui-i. Chen-ho membawa bajak laut ini kehadapan kaisar, kemudian dihukum pancung di tengah pasar ibukota. Namun, beberapa toko bajak laut di lautan cina seperti Chin Lien, pada tahun 1577 telah bersembunyi di Palembang dan kemudian menjadi pedagang yang disegani di Palembang.

Chiang Lien sebagai pengawas perdagangan untuk cina, sebetulnya kedudukan ini adalah suatu jabatan yang disahkan oleh kaisar dan mempunyai wewenang mengatur hukum, imbalan, penurunan ataupun kenaikan (promosi) bagi warga Cina di Palembang. Dapat dibayangkan bahwa kekuasaan orang-orang Cina di Palembang hampir 200.


Masa Kesultanan Palembang

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijCcBNLwYYUNw4UUOCBrnEzL2iDxAeZkrVtl9uNwvWsqQEqptpmvQlo5wHUYhoc6VvXN30ZhY63NETK0cvOBgB-rkSiIKEI1YsYuVbc1Lje1P5tXmVf_S1gu6wv5ZdvbXb-PXrbabOaEbZ/s320/benteng1cy4.jpg

Berbicara mengenai asal-usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi sebagai pusat kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi) hingga sekitar abad ke-12 di bawah Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta Salendra dengan Bala Putra Dewa sebagai Raja Pertama.

Menurut Tomec Pires yang menulis sekitar tahun kejatuhan Melaka, menyatakan bahwa pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina di Palembang adalah akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri. Situasi dan kondisi ini menempatkan Palembang menjadi wilayah perlindungan Kerajaan Islam Demak sekitar tahun 1546, yang melibatkan Aria Penangsang dari Jipang dan Pangeran Hadiwijaya dari Pajang, dimana kematian Aria Penangsang membuat para pengikutnya melarikan diri ke Palembang.

Para pengikut Aria Jipang ini membuat ketakutan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang. Tokoh pendiri Kerajaan Palembang adalah Ki Gede Ing Suro. Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya tepat berada di kompleks PT. Pusri. Dimana makam Ki Gede Ing Suro berada di belakang Pusri. Dari bentuk keraton Jawa di tepi sungai Musi, para penguasanya beradaptasi dengan lingkungan melayu di sekitarnya.

Pada abad ke-17, terjadilah suatu akulturasi dan asimilasi kebudayaan jawa dan melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang. Ki Mas Hindi adalah tokoh kerajaan Palembang yang memperjelas jati diri Palembang, memutus hubungan ideologi dan kultural dengan pengaruh pusat kerajaan kerajaan Mataram di Jawa (1643-1651). Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (Kimas Hindi/Kimas Cinde/Sunan Cinde Walang), menyatakan dirinya sebagai sultan pertama, dan memproklamirkan kota Palembang sebagai ibukota Kesultanan Palembang Darussalam, setara dengan Sultan Agung di Mataram. Ki Mas Hindi bergelar Sultan Abdurrahman, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Cinde Walang (1659-1706).

Keraton Kuto Gawang dibakar habis oleh VOC pada tahun 1659, akibat perlawanan Palembang atas kekurang ajaran hasil wakil VOC di Palembang, Sultan Abdurrahman memindahkan keratonnya ke Beringin Janggut (sekarang sebagai pusat perdangangan).

Sultan Mahmud Baaruddin I yang bergelar Jayo Wikramo (1741-1757), adalah merupakan tokoh pembangunan Kesultanan Palembang, dimana pembangunan modern dilakukannya. Antara lain Mesjid Agung Palembang, Makam Lembang (Kawah Tengkurep), Keraton Kuto Batu (sekarang berdiri Musium Badarudin dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Palembang).

Selain itu, dia juga membuat kanal-kanal di wilayah kesulatan, yang berfungsi ganda, yaitu baik sebagai alur pelayaran, pertanian juga untuk pertahanan. Badaruddin Jayo Wikramo memantapkan konsep kosmologi Batanghari Sembilan sebagai satu lebensraum dari kekuasaan Palembang.

Batanghari Sembilan adalah satu konsep Melayu – Jawa, yaitu adalah delapan penjuru angin yang terpencar dari pusatnya yang, merupakan penjuru kesembilan. Pusat atau penjuru kesembilan ini berada di keraton Palembang (lebih tegas lagi berada di tangan Sultan yang berkuasa).

Dari seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu, Palembang telah membuktikan dan terus secara seksama menjadi pelabuhan yang paling aman dan peraturan paling baik, seperti dinyatakan oleh orang-orang pribumi dan orang-orang Eropa. Begitu memasuki perairan sungai, perahu-perahu kecil, dengan kewaspadaan yang biasa siaga dengan tindakan-tindakan perampasan.

Kemungkinan perahu perampok yang bersembunyi akan memangsa perahu-perahu dagang kecil yang memasuki sungai, jarang terjadi, karena ketatnya penjagaan oleh kekuatan Sultan dengan segala peralatannya. Selain kekayaan yang melimpah dari baiknya pelayanan pelabuhan dan perdagangan, membuat Palembang mempunyai kesempatan memperkuat pertananannya.

Ini dibuktikan oleh Sultan Muhammad Bahauddin yang mendirikan keraton Kuto Besak pada tahun 1780. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan Inggris, Sultan Mahmud Baruddin II berhasil mengatasi politik diplomasi dan peperangan kedua bangsa tersebut.

Sebelum jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun 1821, Sultan Mahmud Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua kali mengahajar pasukan pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang. Keperkasaan Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah Republik Indonesia adalah wajar untuk dianugrahi sebagai Pahlawan Nasional.


Masa Belanda

Tanggal 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama.

Palembang sebagai Ibukota Kesultanan Palembang Darussalam pada saat di bawah pemerintah kolonial Belanda dirombak secara total dari sisi penggolongan kotanya. Pada awalnya wilayah pemukiman penduduk kota Palembang, di zaman Kesultanan lebih dari sekedar pemukiman yang terorganisir. Pemukiman pada waktu itu adalah suatu lembaga persekutuan dimana patronage dan paternalis terbentuk akibat struktur masyarakat tradisional dan feodalistis.

Keseluruhan sistem ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama gugu(k). Kosakata gugu berasal dari jawa – Kawi yang berarti barang katanya, diturut, diindahkan. Setiap guguk mempunyai sifat sektoral ataupun aspiratip. Sekedar untuk pengertian meskipun tidak sama, bentuk guguk ini dapat dilihat dengan sistem gilda pada abad pertengahan di Eropa.

Contoh nama wilayah pemukiman yang dikenal sebagai Sayangan, adalah wilayah dimana paramiji dan alingan (struktur bawah dari golongan penduduk kesultanan) yang memproduksi hasil-hasil dari bahan tembaga. Sayangan artinya pengerajin tembaga (Jawa Kawi). Produksi ini dilakukan atas perintah dari bangsawan yang menjadi pimpinan (guguk) yang menjadi pelindung terhadap kedua golongan baik miji maupun alingan (orang yang dialingi/dilindungi).

Hasil produksi ini merupakan pula income bagi sultan dan kesultanan. Contoh lain dalam adalah wilayah pemukiman mengindikasikan wilayah guguk, yaitu kepandean adalah rajin atau pandai besi, pelampitan adalah perajin lampit, demikian juga dengan kuningan adalah perajin pembuat bahan-bahan dari kuningan. Pemukiman ini dapat pula bersifat aspiratif, yaitu satu guguk yang mempunyai satu profesi atau kedudukan yang sama, seperti guguk Pengulon, pemukiman para pendahulu dan alim ulama disekitar Mesjid Agung.

Demikian pula dengan kedemangan, wilayah dimana tokoh demang tinggal, ataupun kebumen yaitu tempat tempat dimana Mangkubumi menetap. Disamping ada wilayah-wilayah dimana kelompok tertentu bermukim, seperti Kebangkan adalah pemukiman orang-orang dari Bangka, Kebalen adalah pemukiman orang-orang dari Bali. Setelah Palembang dibawah adminstrasi kolonial, maka oleh Regering Commisaris J.I Van Sevenhoven sistem perwilayahan guguk harus dipecah belah.

Pemecahan ini bukan saja memecah belah kekuatan kesultanan, juga sekaligus memcah masyarakat yang tadinya tunduk kepada sistem monarki, menjadi tunduk pada administrasi kolonial. Guguk dijadikan beberapa kampung. Sebagai kepala diangkat menjadi Kepala Kampung, dan di Palembang dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Untuk mengepalai wilayah tersebut diangkat menjadi Demang.


Demang adalah pamongraja pribumi yang tunduk kepada controleur. Kota Palembang pada waktu itu terdiri dari 52 kampung, yaitu 36 kampung berada di seberang ilir dan 16 kampung di seberang Ulu. Kampung-kampung ini diberi nomor yaitu dari nomor 1 sampai 36 untuk seberang ilir, sedangkan seberang ulu dari 1 sampai 16 ulu.

Pemberian nomor-nomor kampung ini penuh semangat pada awal pelaksanaannya, tetapi kemudian pembagian tidak berkembang malah menyusut. Pada tahun 1939 kampung tersebut menjadi 43 buah kampung, dimana 29 kampung berada diseberang ilir dan 14 kampung berada di seberang ulu.

Dapat diperkirakan penciutan adminstratif kampung ini karena yang diperlukan bukanlah wilayahnya, tetapi cacah jiwanya yang ada kaitan dengan pajak kepalanya. Sehingga untuk itu digabungkanlah beberapa kampung yang cacah jiwanya minim, dan cukup dikepalai oleh seorang Kepala Kampung. Oleh karena Kepala Kampung hanya mengurus penduduk pribumi, maka untuk golongan orang Timur Asing, mereka mempunyai Kepala dan wijk tersendiri.

Untuk golongan Cina, kepalanya diangkat dengan kedudukan seperti kepangkatan militer, yaitu Letnan, Kapten dan Mayor. Demikian pula dengan golongan Arab dan Keling (India/Pakistan) dengan kepalanya seorang Kapten. Untuk kedudukan kepala Bangsa Timur Asing, biasanya dipilih berdasarkan atas pernyataan jumlah pajak yang akan mereka pungut dan diserahkan bagi pemerintah disertai pula jaminan dana begi kedudukannya.

Pemerintah Kota Palembang pada 1 April 1906 menjadi satu Stadgemeente. Satu pemerintahan kota yang otonom, dimana dewan kota yang mengatur pemerintahan. Penduduk menyebut pemerintah kota ini adalah Haminte. Ketua Dewan Kota adalah Burgemeester (Walikota), dia dipilih oleh anggota Dewan Kota. Anggota Dewan Kota dipilih oleh penduduk kota.

Sebenernya pemerintah kota bukanlah dibentuk untuk tujuan utama memenuhi kepentingan pribumi, akan tetapi lebih kepada kepentingan para pengusaha Barat yang sedang menikmati liberalisasi. Karena dampak liberalisasi menjadikan kota sebagai pusat atau konsentrasi ekonomi, baik sebagai pelabuhan ekspor, industri, jasa-jasa perdagangan dan menjadi markas para pengusaha.

Kemudian kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126 tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16 Februari 1942.


Era Zaman Jepang

Di zaman penduduk Jepang (1942-1945), tepatnya Jepang tanggal 16 Februari 1942, Jepang masuk ke kota Palembang. Secara struktural tidak ada perubahan kedudukan kepala kampung. Hanya gelarnya saja yang berubah, yaitu menjadi Ku – Co dan mereka dibawah koordinasi Gun – Co.

Tugasnya dititik beratkan pada pembangunan ekonomi peperangan Jepang. Untuk merapatkan barisan di kalangan penduduk, diperkenalkan suatu sistem lingkungan Jepang, Tonari – Gumi, yaitu Rukun Tetangga yang meliputi setiap 10 rumah di suatu kampung. Tonari – gumi dipimpin oleh seorang Ku – Mi – Co (Ketua RT).

Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI.


Kemerdekaan Republik Indonesia

http://smpn19plg.files.wordpress.com/2008/08/logo.gif

Setelah Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A.

Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 948, Palembang dijadikan Kota Besar.

Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya.

Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya Daerah Tingkat II Palembang.

http://infokito.files.wordpress.com/2008/02/oldampera.jpg


Demikian artikel tentang perjalanan panjang sejarah asal-usul kota Palembang, semoga dapat memberikan inspirasi dan wawasan yang bermanfaat bagi kita semua.

Kota Palembang, Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Kota Palembang, Saksi Sejarah Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Jembatan Ampera Sumatera Selatan
Kategori: Kota & Daerah | Area:
Pempek. Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar nama kuliner ini? Ya, pasti yang pertama sekali terlintas di benak kita adalah kota asal kuliner yang memiliki ciri khas makanan berkuah ini, yaitu Kota Palembang. Palembang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Selatan dan termasuk kota terbesar kedua di Pulau Sumatera setelah Kota Medan.

Geografi

Kota Palembang terkenal sebagai kota industri dan kota perdagangan. Posisi geografis Palembang yang terletak di tepian Sungai Musi dan tidak jauh dari Selat Bangka. Hal ini menjadi anugerah alam yang sangat menguntungkan. Walaupun tidak berada di tepi laut, Kota Palembang mampu dijangkau oleh kapal-kapal dari luar negeri. Terutama dengan adanya Dermaga Tangga Buntung dan Dermaga Sei Lais. Selain itu, Kota Palembang terkenal sebagai kota tua, yang pernah menjadi pusat pendidikan agama Budha. Dahulunya, sebuah kerajaan jaya bernama ‘Sriwijaya’ berada di kota ini. Masih banyak peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersebar di seluruh kota dan sekitarnya, dan situs-situs ini masih belum terurus, seperti Beteng Kuto Besak yang bahkan menjadi polemik karena dijadikan tempat perniagaan.
Kota Palembang semakin khas karena dibelah dan dikelilingi Sungai Musi dan anak-anak sungainya. Seharusnya, Palembang lebih tepat menjadi kota sungai, namun sayangnya pola pembangunan pada era lalu sangat kuat dengan visi penyeragaman, sehingga dibentuk sedemikian rupa menjadi kota daratan sebagaimana kota-kota lain di Pulau Jawa.
Secara geografis wilayah Kota Palembang berada antara 2º 52’ – 3º 5’ LS dan 104º 37’- 104º52” BT dengan luas wilayah 400,61 Km² dengan batas-batas sebagai berikut :
  • Batas Utara : Kabupaten Banyuasin.
  • Batas Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin.
  • Batas Timur : Kabupaten Banyuasin.
  • Batas Barat : Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Kota Palembang terdiri dari 16 Kecamatan dan 107 Kelurahan dengan jumlah penduduk 1.708.413 jiwa (tahun 2012). Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Sukarami (98,56 Km²), sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Ilir Barat (6,5 Km²). Kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Ilir Timur I (13.882 jiwa/Km²), sedangkan kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk terendah yaitu Kecamatan Gandus (766 jiwa/ Km²).

Seni Budaya

Sejarah Palembang berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan seperti prasasti Sriwijaya dikenal dengan “Prasasti Kedudukan Bukit” yang tercatat 16 Juni 682, menjadikan Kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia. Palembang pada masa kejayaan Sriwijaya sampai sekarang mengalami akulturasi budaya, ini dilihat dari beberapa bukti yang nyata, yaitu penamaan gelar kebangsawanan, corak dan makam-makam peninggalan masa Islam yang merujuk pada budaya Jawa.
Cerita sejarah Kota Palembang dan kejayaan hingga runtuhnya Kerajaan Sriwijaya sampai pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri menurut tulisan Tomec Pires menjadikan sebuah akulturasi budaya yang ada di Kota Palembang sampai sekarang ini.
Beberapa kesenian yang terdapat di Kota Palembang yaitu:
  • Kesenian Dul Muluk adalah sebuah teater asli Sumatera Selatan yang muncul di Palembang. Kata Dul Muluk sendiri berasal dari nama tokoh utamanya bernama Raja Abdulmuluk Jauhari. Pertama kali Dul Muluk dibawa oleh seorang pedagang yang bernama Wan Bakar seorang keturunan Arab. Selama berdagang, dia juga membawa dan membacakan kitab bacaan yang berisi hikayat baik dalam bentuk syair, salah satunya kitab syair Abdul Muluk. Ternyata kisah Raja Abdul Muluk ini tersebar ke seluruh Kota Palembang dan sangat disukai oleh masyarakat kota palembang sampai sekarang ini.
  • Gending Sriwijaya adalah tarian dan lagu tradisional Kota Palembang. Biasanya dipentaskan untuk penyambutan tamu-tamu dalam resepsi pernikahan. Gending Sriwijaya sendiri menggambarkan kejayaan, keagungan dan keluhuran budaya kemaharajaan Sriwijaya.
  • Kesenian Syarofal Anam adalah salah satu kesenian yang bernuansa Islami yang biasa dipentaskan dalam resepsi pernikahan.
  • Lagu daerah misalnya Melati Karangan, Cuk Mak Ilang, Dek Sangke, Ribang Kemambang dan Dirut.
  • Rumah Limas dan Rumah Rakit adalah rumah adat khas Palembang.
Kain Songket Khas Palembang
Selain tersebut di atas, kain songket khas Palembang adalah salah satu jenis tekstil terbaik yang ada di dunia, yand diukur dari segi kualitasnya. Awal mula kain songket berasal dari perdagangan antara India dan Tiongkok. Orang Cina membawa benang sutera dan orang India membawa benag emas dan perak. Kemudian kain songket ditenun pada sebuah alat tenun bingkai Melayu.
Namun menurut penenun dari Trengganu, orang-orang India lah yang memperkenalkan teknik menenun pertama kalinya di Palembang. Namun ada cerita lain yang menyebutkan, bahwa kain songket merupakan bukti lain peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya. Hingga saat ini, kain songket masih dibuat menggunakan tenun secara manual. Warna yang sering digunakan untuk kain songket yaitu, warna merah dan emas. Kedua warna ini melambangkan zaman keemasan Sriwijaya dan pengaruh Cina pada zaman dulu.
Selain kain songket, Palembang juga mengembangkan jenis tekstil baru yaitu batik Palembang. Berbeda dengan batik-batik yang ada di Indonesia, batik Palembang memiliki warna terang dan menggunakan motif tradisional setempat.
Tiap tahun, Kota Palembang juga menyelenggarakan berbagai festival seperti Festival Sriwijaya yang digelar dalam rangka Hari Jadi Kota Palembang pada bulan Juni, Festival Bidar dan Perahu hias yang digelar dalam rangka Hari Kemerdekaan RI dan festival-festival lainnya.

Wisata

Masjid Cheng Ho Palembang
Berikut adalah beberapa daftar tempat wisata yang bisa Anda kunjungi sebagai referensi ketika Anda berkunjung ke Kota Palembang.
  1. Jembatan Ampera.
  2. Benteng Kuto Besak.
  3. Sungai Musi.
  4. Monpera (Monumen Penderitaan Rakyat).
  5. Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Palembang.
  6. KIF  Park (Kambang Iwak Family).
  7. Pulo Kemaro.
  8. Taman Purbakala Bukit Siguntang.
  9. Hutan Wisata Punti Kayu.
  10. Kawah Tekurep.
  11. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
  12. Museum Tekstil.
  13. Masjid Cheng Ho Palembang.
  14. Museum Balaputradewa.
  15. Kampung Kapitan.
  16. Kampung Arab Al Munawwar 13 Ulu.
  17. Bagus Kuning.
  18. Pusat Kerajinan Songket.
  19. Fantasy Island.
  20. Jakabaring Sport City.
  21. Sungai Gerong.
  22. Waterboom OPI Jakabaring.
  23. Museum PeninggaKerajaan Sriwijaya.

Februari 15, 2017

KEHIDUPAN MEWAH NAPI KORUPSI DI LAPAS SUKAMISKIN

KEHIDUPAN MEWAH NAPI KORUPSI DI LAPAS SUKAMISKIN

HARIANTERBIT.CO – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Sukamiskin, kini tengah menjadi pemberitaan di sejumlah media cetak dan elektronik. Pasca mencuatnya berita yang terkait Anggoro Widjojo seorang terpidana korupsi yang dengan bebas keluar-masuk dari Lapas Sukamiskin, hanya untuk makan malam atau nginap di sebuah apartemen di Kota Bandung. Ternyata itu hanya sepenggal peristiwa di balik Lapas Sukamiskin.
Berdasarkan catatan dan pantauan HARIANTERBIT.co dari beberapa berita yang belakangan muncul sebenarnya itu bukan peristiwa baru terjadi di Lapas Sukamiskin. Bila kita ingat beberapa tahun lalu Gayus Tambunan, dengan mudahnya keluar- masuk lapas, dan plesiran beberapa hari keluar Kota Bandung, bahkan Gayus sempat membeli sebuah rumah yang tak jauh dari lingkungan Lapas Sukamiskin.
Jadi tidak heran pula kalau seorang Rahmat Yasin, yang diberitakan menyewa sebuah rumah mewah di kawasan Panorama Alam Parahyangan Kota Bandung, yang tak jauh dari Lapas Sukamiskin itu.
'Saung etnik' atau bangunan yang terbuat dari bambu-bambu unik layaknya sebuah bungalow menjadi pemandangan mewah di balik Lapas Klas I Sukamiskin Bandung.
‘Saung etnik’ atau bangunan yang terbuat dari bambu-bambu unik layaknya sebuah bungalow menjadi pemandangan mewah di balik Lapas Klas I Sukamiskin Bandung.
Banyak peristiwa lainnya yang cukup mengejutkan  di Lapas Sukamiskin yang dikenal sebagai ‘penjara koruptor’. Betapa tidak, di balik tembok bangunan peninggalan Belanda (Lapas Sukamiskin-red) ternyata kehidupan para napi korupsi atau warga binaan di dalam lapas ini sangat mewah. Mulai dari kamar mewah di tiap blok, yang mereka desain layaknya sebuah kamar pribadi atau setara kamar hotel bintang tiga sampai pada sederet ‘saung etnik’ atau bangunan yang terbuat dari bambu-bambu unik layaknya sebuah bungalow.
Belum lagi gaya kehidupan mewah di dalam Lapas Sukamiskin, seperti Romi Herton mantan Wali Kota Palembang (Sumsel). Dikabarkan hampir setiap sore Romi, selalu berada di halaman luar lapas. Berdasarkan pantauan memang persis di depan lapas tersebut tertata taman-taman dan saung lesehan berukuran sekitar 2×2 meter.
Tak hanya itu, konon Romi kerap membagi-bagi uang kepada siapa saja yang datang mengunjunginya. Bahkan hebatnya lagi, dia masih bisa mengendalikan sistem administrasi kepemerintahan Kota Palembang, dari dalam Lapas Sukamiskin, kendati dirinya tidak lagi menjadi Wali Kota Palembang.
Tidak heran pula bila melihat langsung ke dalam Lapas Sukamiskin, terdapat taman satwa langka, seperti burung hantu, burung merak, ayam hutan serta jenis unggas lainnya serta berderet saung bambu di atas hamparan atau lahan perkebunan mini milik sang mantan Jenderal Polisi (Kakorlantas) Djoko Susilo.
Singkatnya, jangan heran dengan kehidupan para napi korupsi di Lapas Sukamiskin Bandung, yang semua serba mewah termasuk urusan sandang-pangannya.
Atas peristiwa tersebut, mengutip pembicaraan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas 1 Sukamiskin Dedi Handoko, membenarkan jika terpidana kasus korupsi Anggoro Widjojo makan di sebuah apartemen di Bandung. Namun, Dedi membantah jika yang bersangkutan melakukannya berulang-ulang atau disebut sering keluar masuk.
Menurut Dedi, pihaknya juga telah meminta keterangan dari Anggoro di lapas yang dihuni sejumlah terpidana kasus korupsi itu. Sebab, ada kabar yang menyebut Anggoro kedapatan singgah ke apartemen di kawasan Jalan Ahmad Yani dan disebut-sebut telah empat kali berkunjung.
Meski begitu, Dedi mengatakan, tetap perlu investigasi dan penyelidikan untuk meyakini pengakuan kedua warga binaan itu. Sebab, kata dia, warga binaan masih bisa melakukan penyimpangan meski menempuh prosedur.
“Saya memberikan izin keluar untuk narapidana, pasti sesuai prosedur. Misalnya berobat, harus ada rujukan dokter, kemudian kami sidangkan, dan kalau keluar pun harus dikawal polisi. Itu prosedurnya, kalau di luar bisa saja terjadi penyimpangan,” tandasnya. (ronny)

Ruang Sel Romi Herton Diawasi 50 Unit CCTV




Ruang Sel Romi Herton Diawasi 50 Unit CCTV


Kalapan Gunung Sindur Mujiarto saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Minggu 12/2 (dok. KM) Kalapan Gunung Sindur Mujiarto saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Minggu 12/2 (dok. KM)
BOGOR (KM) – Kepala Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, membenarkan keberadaan  mantan walikota Palembang Romi Herton sebagai penghuni Blok A di Lapas Gunung Sindur setelah sebelumnya menghuni lembaga pemasyarakatn Sukamiskin Bandung.
“Ia tiba di lapas Gunung Sindur jam 22:12 WIB. Setelah melalui pemeriksaan berkas dan kesehatan, langsung ditempatkan di blok A, sama seperti yang sebelumnya, Anggoro [Widjojo],” ujar Mujiarto kepada media saat ditemui di ruang kerjanya di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2A Gunung Sindur, Bogor, Jumat (10/02).
Lebih lanjut, Mujiarto menjelaskan tidak mengetahui alasan terkait kepindahan Romi dari lapas Sukamiskin ke lapas Gunung Sindur maupun jangka waktu keberadaannya mendiami sel barunya itu. Ia juga menerangkan bahwa Romi tidak mendapatkan perlakukan istimewa dibanding penghuni lapas lainnya.
“Kalau alasan kita tidak tahu, coba ditanyain sama pihak lapas Sukamiskin atau kantor wilayah Jawa Barat, mungkin sampai selesai masa pidananya, karena saat pemindahan kita sifatnya hanya menerima. Untuk perlakuan keamanan, kita perlakukan sama dengan yang lain,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa ruangan sel Blok A yang dihuni oleh Romi dipantau sepanjang hari oleh kepala regu pengaman lapas.
“Untuk fasiltas keamanan di dalam lapas, khusus Blok A emang berbeda karena ada pengaman kunci otomatis  yang dikendalikan oleh kepala regu pengaman dan ada kamera CCTV sebanyak 50 titik yang mengawasi 24 jam,” jelasnya.
Romi Herton adalah terpidana kasus suap hakim Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar untuk mempengaruhi putusan perkara permohonan keberatan hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) kota Palembang yang saat itu ditangani oleh Akil.
Romi Herton dan pasangannya, Harnojoyo, mengajukan keberatan ke MK karena kalah 8 suara. Perkara itu ditangani Akil Mochtar bersama dengan dua hakim anggota, yaitu Maria Farida Indrati dan Anwar Usman.
Romi Herton dan Masyitoh terbukti melakukan perbuatan sesuai dengan dakwaan kesatu pertama yang berasal dari Pasal 6 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 UU No 13 tahun 1999 juncto pasal 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP. (IRFAN DAMAR SINAGA)

Pelesiran, Anggoro cs Sogok Petugas Lapas Sukamiskin Rp 100 Ribu

news.detik.com , Kamis 09 Feb 2017, 22:06 WIB
 
 
akarta - Enam petugas Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, terbukti melanggar prosedur pengawalan narapidana saat berada di luar penjara. Mereka menerima uang Rp 100 ribu sebagai imbalan melonggarkan proses pengawalan.

"Ada imbalan-imbalan dari napi, ngasih makan, rokok, dan ada yang dikasih Rp 100 ribu. Sebagai uang pengganti makan, itu saja," kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkum HAM Jabar Molyanto di Lapas Sukamiskin, Kota Bandung, Kamis (9/2/2017).

Molyanto menjelaskan, dengan uang sogokan itu, para napi lalu 'pelesiran' ke tempat lainnya setelah berobat di rumah sakit. Seperti yang dilakukan napi Anggoro Widjojo, Romi Herton, dan Rachmat Yasin.

Dia melanjutkan, setiap napi yang minta izin keluar dari penjara akan dikawal oleh seorang petugas lapas dan seorang polisi. Sesuai dengan prosedur yang berlaku, keduanya harus mengikuti napi tersebut hingga kembali ke lapas.

"Jadi istilahnya tidak boleh dibiarkan bergerak sendiri, kecuali sedang diperiksa oleh dokter. Tapi, dalam kasus ini, ada kelonggaran yang sengaja dilakukan," ucap dia.

"Tentunya dalam hal ini juga ada niat dari napi untuk melakukan indisipliner. Memanfaatkan ketidakdisiplinan petugas," tambahnya.

Buntut dari pelesiran tersebut, kata Molyanto, pihaknya sudah memindahkan Anggoro Widjojo dan Romi Herton ke Lapas Gunung Sindur, Bogor. Keduanya akan ditempatkan di blok khusus napi nakal atau hairis.

"Untuk Rachmat Yasin kita sedang kaji karena keluarnya sekali saja, 15 Desember 2016. Sanksinya akan dikeluarkan, mungkin dipindahkan, mungkin juga tidak," ujar Molyanto.
(idh/fdn)