Bangunan Sirah yaitu rumah Palembang warna asli merah tua coklat
dengan pinggiran keemasan berikut 2x (4+5) = 18 tanduk lembaran daun
teratai. Ditengah atasan terdapat kembang melati yang belum mekar,
berikut simbar yang melambangkan kerukunan kekeluargaan dan
kesejahteraan Kota Palembang disegala zaman.
Puncak rebung warna kuning keemasan, melambangkan kemuliaan dan
keagungan. Jumlah 8 buah, melambangkan kemuliaan dan keagungan. Jumlah 8
buah, melambangkan bulan Agustus yang bersejarah, bulan Proklamasi yang
mengingatkan perjuangan Kemerdekaan RI. Segi tiga ialah sebuah Bukit
yang termasyur di Palembang dengan nama BUKIT SIGUNTANG berwarna hijau
berikut sinar keemasan, melambangkan tanggal 17 hari Proklamsi
Kemerdekaan RI. Bukit Siguntang adalah tempat kesucian dimasa zaman
purbakala yaitu diabad ke VII s/d XII terdapat kumpulan candi-candi,
kuil-kuil dan Perguruan Tinggi dikunjungi oleh Pendeta-pendeta dan
pelajar-pelajar di seluruh Asia.[
Myth Dunia mengenal dan mempelajari mitos-mitos yang tersebar dan berkembang di seluruh dunia
Wednesday, 11 July 2012
Asal-Usul Nama Kota Palembang
Arti Nama Palembang
Nama Palembang banyak mempunyai arti dari berbagai sumber para ahli. Mereka mengatakan kata tersebut berasal dari Lembang atau Lembeng, yaitu tanah yang berlekuk, tanah yang rendah, akar yang membengkak karena terendam lama di dalam air.
Untuk
arti lain dari Lembang adalah tidak tersusun rapi, terserak-serak.
Sedangkan menurut bahasa Melayu, lembang berarti air yang merembes atau
rembesan air. Arti Pa atau Pe menunjukkan keadaan atau tempat.
Menurut
sumber lainnya, Palembang berarti tempat tanah yang dihanyutkan ke
tepi, atau tanah yang terdampar. Pengertian Palembang tersebut
kesemuanya menunjukkan tanah yang berair.
lni
tidak jauh dari kenyataan yang ada, bahkan pada saat sekarang, yang
dibuktikan oleh data statistik tahun 1990, bahwa masih terdapat 52,24% tanah yang tergenang di kota Palembang. Sebagai catatan tambahan, di Kotamadya sekarang ini masih tercatat sebanyak 117 buah anak-anak sungai yang mengalir di tengah kota.
Kondisi
alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka
untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat
vital, ekonomis, efisien, dan punya daya jangkau dan punya kecepatan
yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang
berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara
tiga kesatuan wilayah:
• Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan
• Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah
• Daerah pesisir timur laut
Ketiga
kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat menentukan
dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor
setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah
terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat
menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan.
Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya,
yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada
wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan
Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani
dikawasan Nusantara.
Lahirnya Nama Palembang
Kapan
nama Palembang “lahir”, tepatnya belum dapat diperkirakan. Apakah nama
ini lahir sejak Sriwijaya runtuh, atau sebaliknya, nama Palembang
lahir lebih dahulu sebelum nama Sriwijaya “lahir”?
Banyak
sumber-sumber sejarah di zamannya yang menentukan lahirnya kota
Palembang. Seperti sumber kronik China, Jawa, Islam, dan Melayu. Namun,
sumber-sumber tersebut masih simpang siur dalam penentuannya. Yang
jelas, dari sumber-sumber tersebut, tercatat dari tahun 1225 hingga di
tahun 1612.
Sejarah
Melayu aslinya ditulis sekitar tahun 1511, ditulis kembali dari pelbagai
versi, antaranya oleh Abdullah ibn Abdulkadir Munsyi yang menulis
kembali teks tahun 1612. Teks yang menceritakan Palembang dari Sejarah
Melayu:
“…..
ada sebuah negeri di tanah Andalas, Perlembang namanya, Demang Lebar
Daun nama rajanya, asalnya daripada anak-cucu Raja Sulan; Muara Tatang
nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada
sekarang inilah. Maka Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu
namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Seguntang Mahameru
namanya.”
Sejarah dan Perkembangan Palembang
Palembang
merupakan kota tertua di Indonesia, berumur setidaknya 1324 tahun, hal
ini berdasarkan pada prasasti Kedukan Bukit (683 M), yang ditemukan di
Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan
pembentukan sebuah Wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan
ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi (tanggal 5
bulan Ashada tahun 605 syaka). Maka tanggal tersebut dijadikan patokan
hari lahir Kota Palembang.
Prasasti
Batu bersurat, ditemukan oleh Controleur Batenberg di tepi sungai
Kedukan Bukit, yakni diantara Bukit Siguntang dengan Situs Karanganyar
pada tahun 1926 dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno.
Prasasti tersebut oleh penduduk kampung Kedukan Bukit waktu itu
dijadikan semacam tumbal bila akan mengikuti lomba Bidar, yakni dengan
cara meletakkan di haluan Bidar yang akan diperlombakan.
Konon,
Bidar atau Perahu yang digentoli dengan batu “sakti-bertuah” itu
senantiasa menang berlomba. Kemudian Batu-bersurat Kedukan Bukit itu
ditelaah oleh para pakar sejarah dan kebudayaan, diantaranya Prof. M.
Yamin yang menyatakan, itulah proklamasi (penggalian/pemindahan) ibukota
Sriwijaya (dari tempat lain) ke Bukit Seguntang.
Prasasti Kedukan Bukit itu berbunyi sebagai berikut :
1. Swasti cri cakawarsatita 605 ekadaci cu 2. Klapaksa wulan waicakha dapunta hiyang nayik di 3. samwau manalap siddhayatra disaptami cuklapaksa 4. Wulan jyesta dapunta hiyang marlapas dari Minanga 5. Tamvan mamawa yam wala dualaksa danan koca 6. Duaratus cara di samwau danan jalan sariwu 7. Tluratus sapulu dua wannakna datam di Mukha Upang 8. Sukhacitta di pancami cuklapaksa wulan 9. Laghu mudita datam marwuat wanua 10. Criwijava siddhayatra subhiksa.
(Sumber : Prof. Poerbacaraka, G. Coedes, Prof. Dr. Ph.S. Van Ronkel Dr. Buchari, Prof. Slametmulyana)
Kota
Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah
leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja
Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang.
Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi
ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik.
Sewaktu
pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara
bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan
mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri
baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian
selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan
orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama
Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.
Hubungan Palembang dengan Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya,
seperti juga bentuk-bentuk pemerintahan di Asia Tenggara lainnya pada
kurun waktu itu, bentuknya dikenal sebagai Port-polity. Pengertian
Port-polity secara sederhana bermula sebagai sebuah pusat redistribusi,
yang secara perlahan-lahan mengambil alih sejumlah bentuk peningkatan
kemajuan yang terkandung di dalam spektrum luas.
Pusat
pertumbuhan dari sebuah Polity adalah entreport yang menghasilkan
tambahan bagi kekayaan dan kontak-kontak kebudayaan. Hasil-hasil ini
diperoleh oleh para pemimpin setempat (dalam istilah Sriwijaya
sebutannya adalah datu), dengan hasil ini merupakan basis untuk
penggunaan kekuatan ekonomi dan penguasaan politik di Asia Tenggara.
Ada
tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau
Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :
“...Negara
ini terletak di Laut Selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing
di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk
menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu
asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali,
rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah di
pelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua
awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu
menjadi pusat pelayaran.”
Tentunya
banyak lagi cerita, legenda bahkan mitos tentang Sriwijaya.
Pelaut-pelaut asing seperti Cina, Arab, dan Parsi, mencatat seluruh
perisitiwa kapanpun kisah-kisah yang mereka lihat dan dengar. Jika
pelaut-pelaut Arab dan Parsi, menggambarkan keadaan sungai Musi, dimana
Palembang terletak, adalah bagaikan kota di Tiggris.
Kota
Palembang digambarkan mereka adalah kota yang sangat besar, dimana
jika dimasuki kota tersebut, kokok ayam jantan tidak berhenti
bersahut-sahutan (dalam arti kokok sang ayam mengikuti terbitnya
matahari). Kisah-kisah perjalanan mereka penuh dengan keajaiban 1001
malam. Pelaut-pelaut Cina mencatat lebih realistis tentang kota
Palembang, dimana mereka melihat bagaimana kehiduapan penduduk kota yang
hidup diatas rakit-rakit tanpa dipungut pajak.
Sedangkan
bagi pemimpin hidup berumah di tanah kering di atas rumah yang
bertiang. Mereka mengeja nama Palembang sesuai dengan lidah dan aksara
mereka. Palembang disebut atau diucapkan mereka sebagai Po-lin-fong atau
Ku-kang (berarti pelabuhan lama). Setelah mengalami kejayaan
diabad-abad ke-7 dan 9, maka dikurun abad ke-12 Sriwijaya mengalami
keruntuhan secara perlahan-lahan.
Keruntuhan
Sriwijaya ini, baik karena persaingan dengan kerajaan di Jawa,
pertempuran dengan kerajaan Cola dari India dan terakhir kejatuhan ini
tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di
Nusantara. Kerajaan-kerajaan Islam yang tadinya merupakan bagian-bagian
kecil dari kerajaan Sriwijaya, berkembang menjadi kerajaan besar
seperti yang ada di Aceh dan Semenanjung Malaysia.
Dari
sisa Kerajaan Sriwijaya tersebut tinggalah Palembang sebagai satu
kekuatan tersendiri yang dikenal sebagai kerajaan Palembang. Menurut
catatan Cina raja Palembang yang bernama Ma-na-ha Pau-lin-pang mengirim
dutanya menghadap kaisar Cina tahun 1374 dan 1375.
Maharaja
ini barangkali adalah raja Palembang terakhir, sebelum Palembang
dihancurkan oleh Majapahit pada tahun 1377. Berkemungkinan Parameswara
dengan para pengikutnya hijrah ke semenanjung, dimana ia singgah lebih
dulu ke pulau Temasik dan mendirikan kerajaan Singapura. Pulau ini
ditinggalkannya setelah dia berperang melawan orang-orang Siam.
Dari
Singapura dia hijrah ke Semenanjung dan mendirikan kerajaan Melaka.
Setelah membina kerajaan ini dengan gaya dan cara Sriwijaya, maka Melaka
menjadi kerajaan terbesar di nusantara setelah kebesaran Sriwijaya.
Palembang sendiri setelah ditinggalkan Parameswara menjadi chaos.
Majapahit
tidak dapat menempatkan adipati di Palembang, karena ditolak oleh
orang-orang Cina yang telah menguasai Palembang. Mereka menyebut
Palembang sebagai Ku-Kang dan mereka terdiri dari kelompok-kelompok cina
yang terusir dari Cina Selatan, yaitu dari wilayah Nan-hai, Chang-chou
dan Changuan-chou.
Meskipun
setiap kelompok ini mempunyai pemimpin sendiri, tetapi mereka sepakat
menolak pimpinan dari Majapahit dan mengangkat Liang Tau-ming sebagai
pemimpin mereka. Pada masa ini Palembang dikenal sebagai wilayah yang
menjadi sarang bajak laut dari orang-orang Cina tersebut. Tidak heran
jika toko sejarah dan legendaris dari Cina, yaitu Laksamana Chen-ho
terpaksa beberapa kali muncul di Palembang guna memberantas para bajak
laut ini.
Pada tahun
1407 setelah kembali dari pelayarannya dari barat, Chen-ho sendiri telah
menangkap toko bajak laut dari Palembang yaitu Chen Tsui-i. Chen-ho
membawa bajak laut ini kehadapan kaisar, kemudian dihukum pancung di
tengah pasar ibukota. Namun, beberapa toko bajak laut di lautan cina
seperti Chin Lien, pada tahun 1577 telah bersembunyi di Palembang dan
kemudian menjadi pedagang yang disegani di Palembang.
Chiang
Lien sebagai pengawas perdagangan untuk cina, sebetulnya kedudukan ini
adalah suatu jabatan yang disahkan oleh kaisar dan mempunyai wewenang
mengatur hukum, imbalan, penurunan ataupun kenaikan (promosi) bagi
warga Cina di Palembang. Dapat dibayangkan bahwa kekuasaan orang-orang
Cina di Palembang hampir 200.
Masa Kesultanan Palembang
Berbicara
mengenai asal-usul kota Palembang, memang tidak bisa dilepaskan dari
sejarah perkembangan kerajaan Sriwijaya, yang pernah menjadikan kota
Palembang sebagai ibukotanya. Kejayaan Sriwijaya seolah-olah diturunkan
kepada Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai
kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara. Palembang pernah berfungsi
sebagai pusat kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 (tahun 683 Masehi)
hingga sekitar abad ke-12 di bawah Wangsa Sailendra/Turunan Dapunta
Salendra dengan Bala Putra Dewa sebagai Raja Pertama.
Menurut
Tomec Pires yang menulis sekitar tahun kejatuhan Melaka, menyatakan
bahwa pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina di Palembang adalah akibat
kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri. Situasi dan kondisi ini
menempatkan Palembang menjadi wilayah perlindungan Kerajaan Islam Demak
sekitar tahun 1546, yang melibatkan Aria Penangsang dari Jipang dan
Pangeran Hadiwijaya dari Pajang, dimana kematian Aria Penangsang membuat
para pengikutnya melarikan diri ke Palembang.
Para
pengikut Aria Jipang ini membuat ketakutan baru dengan mendirikan
Kerajaan Palembang. Tokoh pendiri Kerajaan Palembang adalah Ki Gede Ing
Suro. Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya tepat
berada di kompleks PT. Pusri. Dimana makam Ki Gede Ing Suro berada di
belakang Pusri. Dari bentuk keraton Jawa di tepi sungai Musi, para
penguasanya beradaptasi dengan lingkungan melayu di sekitarnya.
Pada
abad ke-17, terjadilah suatu akulturasi dan asimilasi kebudayaan jawa
dan melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang. Ki Mas Hindi
adalah tokoh kerajaan Palembang yang memperjelas jati diri Palembang,
memutus hubungan ideologi dan kultural dengan pengaruh pusat kerajaan
kerajaan Mataram di Jawa (1643-1651). Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri
Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman
(Kimas Hindi/Kimas Cinde/Sunan Cinde Walang), menyatakan dirinya sebagai
sultan pertama, dan memproklamirkan kota Palembang sebagai ibukota
Kesultanan Palembang Darussalam, setara dengan Sultan Agung di Mataram.
Ki Mas Hindi bergelar Sultan Abdurrahman, yang kemudian dikenal sebagai
Sunan Cinde Walang (1659-1706).
Keraton
Kuto Gawang dibakar habis oleh VOC pada tahun 1659, akibat perlawanan
Palembang atas kekurang ajaran hasil wakil VOC di Palembang, Sultan
Abdurrahman memindahkan keratonnya ke Beringin Janggut (sekarang sebagai
pusat perdangangan).
Sultan
Mahmud Baaruddin I yang bergelar Jayo Wikramo (1741-1757), adalah
merupakan tokoh pembangunan Kesultanan Palembang, dimana pembangunan
modern dilakukannya. Antara lain Mesjid Agung Palembang, Makam Lembang
(Kawah Tengkurep), Keraton Kuto Batu (sekarang berdiri Musium Badarudin
dan Kantor Dinas Pariwisata Kota Palembang).
Selain
itu, dia juga membuat kanal-kanal di wilayah kesulatan, yang berfungsi
ganda, yaitu baik sebagai alur pelayaran, pertanian juga untuk
pertahanan. Badaruddin Jayo Wikramo memantapkan konsep kosmologi
Batanghari Sembilan sebagai satu lebensraum dari kekuasaan Palembang.
Batanghari
Sembilan adalah satu konsep Melayu – Jawa, yaitu adalah delapan
penjuru angin yang terpencar dari pusatnya yang, merupakan penjuru
kesembilan. Pusat atau penjuru kesembilan ini berada di keraton
Palembang (lebih tegas lagi berada di tangan Sultan yang berkuasa).
Dari
seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu, Palembang telah
membuktikan dan terus secara seksama menjadi pelabuhan yang paling aman
dan peraturan paling baik, seperti dinyatakan oleh orang-orang pribumi
dan orang-orang Eropa. Begitu memasuki perairan sungai, perahu-perahu
kecil, dengan kewaspadaan yang biasa siaga dengan tindakan-tindakan
perampasan.
Kemungkinan
perahu perampok yang bersembunyi akan memangsa perahu-perahu dagang
kecil yang memasuki sungai, jarang terjadi, karena ketatnya penjagaan
oleh kekuatan Sultan dengan segala peralatannya. Selain kekayaan yang
melimpah dari baiknya pelayanan pelabuhan dan perdagangan, membuat
Palembang mempunyai kesempatan memperkuat pertananannya.
Ini
dibuktikan oleh Sultan Muhammad Bahauddin yang mendirikan keraton Kuto
Besak pada tahun 1780. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan
Inggris, Sultan Mahmud Baruddin II berhasil mengatasi politik diplomasi
dan peperangan kedua bangsa tersebut.
Sebelum
jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun 1821, Sultan Mahmud
Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua kali
mengahajar pasukan pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang.
Keperkasaan Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah
Republik Indonesia adalah wajar untuk dianugrahi sebagai Pahlawan
Nasional.
Masa Belanda
Tanggal
7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang dihapuskan oleh penjajah Belanda
dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia
Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823), dengan Commisaris
Sevenhoven sebagai pejabat Pemerintah Belanda pertama.
Palembang
sebagai Ibukota Kesultanan Palembang Darussalam pada saat di bawah
pemerintah kolonial Belanda dirombak secara total dari sisi penggolongan
kotanya. Pada awalnya wilayah pemukiman penduduk kota Palembang, di
zaman Kesultanan lebih dari sekedar pemukiman yang terorganisir.
Pemukiman pada waktu itu adalah suatu lembaga persekutuan dimana
patronage dan paternalis terbentuk akibat struktur masyarakat
tradisional dan feodalistis.
Keseluruhan
sistem ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal
dengan nama gugu(k). Kosakata gugu berasal dari jawa – Kawi yang
berarti barang katanya, diturut, diindahkan. Setiap guguk mempunyai
sifat sektoral ataupun aspiratip. Sekedar untuk pengertian meskipun
tidak sama, bentuk guguk ini dapat dilihat dengan sistem gilda pada
abad pertengahan di Eropa.
Contoh
nama wilayah pemukiman yang dikenal sebagai Sayangan, adalah wilayah
dimana paramiji dan alingan (struktur bawah dari golongan penduduk
kesultanan) yang memproduksi hasil-hasil dari bahan tembaga. Sayangan
artinya pengerajin tembaga (Jawa Kawi). Produksi ini dilakukan atas
perintah dari bangsawan yang menjadi pimpinan (guguk) yang menjadi
pelindung terhadap kedua golongan baik miji maupun alingan (orang yang
dialingi/dilindungi).
Hasil
produksi ini merupakan pula income bagi sultan dan kesultanan. Contoh
lain dalam adalah wilayah pemukiman mengindikasikan wilayah guguk,
yaitu kepandean adalah rajin atau pandai besi, pelampitan adalah
perajin lampit, demikian juga dengan kuningan adalah perajin pembuat
bahan-bahan dari kuningan. Pemukiman ini dapat pula bersifat aspiratif,
yaitu satu guguk yang mempunyai satu profesi atau kedudukan yang sama,
seperti guguk Pengulon, pemukiman para pendahulu dan alim ulama
disekitar Mesjid Agung.
Demikian
pula dengan kedemangan, wilayah dimana tokoh demang tinggal, ataupun
kebumen yaitu tempat tempat dimana Mangkubumi menetap. Disamping ada
wilayah-wilayah dimana kelompok tertentu bermukim, seperti Kebangkan
adalah pemukiman orang-orang dari Bangka, Kebalen adalah pemukiman
orang-orang dari Bali. Setelah Palembang dibawah adminstrasi kolonial,
maka oleh Regering Commisaris J.I Van Sevenhoven sistem perwilayahan
guguk harus dipecah belah.
Pemecahan
ini bukan saja memecah belah kekuatan kesultanan, juga sekaligus
memcah masyarakat yang tadinya tunduk kepada sistem monarki, menjadi
tunduk pada administrasi kolonial. Guguk dijadikan beberapa kampung.
Sebagai kepala diangkat menjadi Kepala Kampung, dan di Palembang dibagi
menjadi dua wilayah, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Untuk
mengepalai wilayah tersebut diangkat menjadi Demang.
Demang
adalah pamongraja pribumi yang tunduk kepada controleur. Kota
Palembang pada waktu itu terdiri dari 52 kampung, yaitu 36 kampung
berada di seberang ilir dan 16 kampung di seberang Ulu. Kampung-kampung
ini diberi nomor yaitu dari nomor 1 sampai 36 untuk seberang ilir,
sedangkan seberang ulu dari 1 sampai 16 ulu.
Pemberian
nomor-nomor kampung ini penuh semangat pada awal pelaksanaannya,
tetapi kemudian pembagian tidak berkembang malah menyusut. Pada tahun
1939 kampung tersebut menjadi 43 buah kampung, dimana 29 kampung berada
diseberang ilir dan 14 kampung berada di seberang ulu.
Dapat
diperkirakan penciutan adminstratif kampung ini karena yang diperlukan
bukanlah wilayahnya, tetapi cacah jiwanya yang ada kaitan dengan pajak
kepalanya. Sehingga untuk itu digabungkanlah beberapa kampung yang
cacah jiwanya minim, dan cukup dikepalai oleh seorang Kepala Kampung.
Oleh karena Kepala Kampung hanya mengurus penduduk pribumi, maka untuk
golongan orang Timur Asing, mereka mempunyai Kepala dan wijk
tersendiri.
Untuk
golongan Cina, kepalanya diangkat dengan kedudukan seperti kepangkatan
militer, yaitu Letnan, Kapten dan Mayor. Demikian pula dengan golongan
Arab dan Keling (India/Pakistan) dengan kepalanya seorang Kapten. Untuk
kedudukan kepala Bangsa Timur Asing, biasanya dipilih berdasarkan atas
pernyataan jumlah pajak yang akan mereka pungut dan diserahkan bagi
pemerintah disertai pula jaminan dana begi kedudukannya.
Pemerintah
Kota Palembang pada 1 April 1906 menjadi satu Stadgemeente. Satu
pemerintahan kota yang otonom, dimana dewan kota yang mengatur
pemerintahan. Penduduk menyebut pemerintah kota ini adalah Haminte.
Ketua Dewan Kota adalah Burgemeester (Walikota), dia dipilih oleh
anggota Dewan Kota. Anggota Dewan Kota dipilih oleh penduduk kota.
Sebenernya
pemerintah kota bukanlah dibentuk untuk tujuan utama memenuhi
kepentingan pribumi, akan tetapi lebih kepada kepentingan para pengusaha
Barat yang sedang menikmati liberalisasi. Karena dampak liberalisasi
menjadikan kota sebagai pusat atau konsentrasi ekonomi, baik sebagai
pelabuhan ekspor, industri, jasa-jasa perdagangan dan menjadi markas
para pengusaha.
Kemudian
kota Palembang dijadikan Gameente/haminte berdasarkan stbld. No. 126
tahun 1906 tanggal 1 April 1906 hingga masuknya Jepang tanggal 16
Februari 1942.
Era Zaman Jepang
Di
zaman penduduk Jepang (1942-1945), tepatnya Jepang tanggal 16 Februari
1942, Jepang masuk ke kota Palembang. Secara struktural tidak ada
perubahan kedudukan kepala kampung. Hanya gelarnya saja yang berubah,
yaitu menjadi Ku – Co dan mereka dibawah koordinasi Gun – Co.
Tugasnya
dititik beratkan pada pembangunan ekonomi peperangan Jepang. Untuk
merapatkan barisan di kalangan penduduk, diperkenalkan suatu sistem
lingkungan Jepang, Tonari – Gumi, yaitu Rukun Tetangga yang meliputi
setiap 10 rumah di suatu kampung. Tonari – gumi dipimpin oleh seorang Ku
– Mi – Co (Ketua RT).
Palembang Syi yang dipimpin Syi-co (Walikota) berlangsung dari tahun 1942 hingga kemerdekaan RI.
Kemerdekaan Republik Indonesia
Setelah
Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17
Agustus 1945, berdasarkan keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Sumatera
Selatan No. 103 tahun 1945, Palembang dijadikan Kota Kelas A.
Berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 948, Palembang dijadikan Kota Besar.
Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 1965, Palembang dijadikan Kotamadya.
Berdasarkan
Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tanggal 23 Juli 1974 tentang
Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Palembang dijadikan Kotamadya
Daerah Tingkat II Palembang.
Demikian
artikel tentang perjalanan panjang sejarah asal-usul kota Palembang,
semoga dapat memberikan inspirasi dan wawasan yang bermanfaat bagi kita
semua.
Pempek. Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar nama
kuliner ini? Ya, pasti yang pertama sekali terlintas di benak kita
adalah kota asal kuliner yang memiliki ciri khas makanan berkuah ini,
yaitu Kota Palembang. Palembang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Selatan dan termasuk kota terbesar kedua di Pulau Sumatera setelah Kota Medan.
Geografi
Kota Palembang terkenal sebagai kota industri dan kota perdagangan. Posisi geografis Palembang yang terletak di tepian Sungai Musi
dan tidak jauh dari Selat Bangka. Hal ini menjadi anugerah alam yang
sangat menguntungkan. Walaupun tidak berada di tepi laut, Kota Palembang
mampu dijangkau oleh kapal-kapal dari luar negeri. Terutama dengan
adanya Dermaga Tangga Buntung dan Dermaga Sei Lais. Selain itu, Kota
Palembang terkenal sebagai kota tua, yang pernah menjadi pusat
pendidikan agama Budha. Dahulunya, sebuah kerajaan jaya bernama
‘Sriwijaya’ berada di kota ini. Masih banyak peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersebar di seluruh kota dan sekitarnya, dan situs-situs ini masih belum terurus, seperti Beteng Kuto Besak yang bahkan menjadi polemik karena dijadikan tempat perniagaan.
Kota Palembang semakin khas karena dibelah dan dikelilingi Sungai
Musi dan anak-anak sungainya. Seharusnya, Palembang lebih tepat menjadi
kota sungai, namun sayangnya pola pembangunan pada era lalu sangat kuat
dengan visi penyeragaman, sehingga dibentuk sedemikian rupa menjadi kota
daratan sebagaimana kota-kota lain di Pulau Jawa.
Secara geografis wilayah Kota Palembang berada antara 2º 52’ – 3º 5’
LS dan 104º 37’- 104º52” BT dengan luas wilayah 400,61 Km² dengan
batas-batas sebagai berikut :
Batas Utara : Kabupaten Banyuasin.
Batas Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Banyuasin.
Batas Timur : Kabupaten Banyuasin.
Batas Barat : Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Kota Palembang terdiri dari 16 Kecamatan dan 107 Kelurahan dengan
jumlah penduduk 1.708.413 jiwa (tahun 2012). Kecamatan dengan luas
wilayah terbesar yaitu Kecamatan Sukarami (98,56 Km²), sedangkan
kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Ilir Barat (6,5 Km²).
Kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di
Kecamatan Ilir Timur I (13.882 jiwa/Km²), sedangkan kecamatan dengan
tingkat kepadatan penduduk terendah yaitu Kecamatan Gandus (766 jiwa/
Km²).
Seni Budaya
Sejarah Palembang berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan seperti
prasasti Sriwijaya dikenal dengan “Prasasti Kedudukan Bukit” yang
tercatat 16 Juni 682, menjadikan Kota Palembang sebagai kota tertua di
Indonesia. Palembang pada masa kejayaan Sriwijaya sampai sekarang
mengalami akulturasi budaya, ini dilihat dari beberapa bukti yang nyata,
yaitu penamaan gelar kebangsawanan, corak dan makam-makam peninggalan
masa Islam yang merujuk pada budaya Jawa.
Cerita sejarah Kota Palembang dan kejayaan hingga
runtuhnya Kerajaan Sriwijaya sampai pupusnya pengaruh Majapahit dan Cina
akibat kebangkitan Islam di wilayah Palembang sendiri menurut tulisan
Tomec Pires menjadikan sebuah akulturasi budaya yang ada di Kota
Palembang sampai sekarang ini.
Beberapa kesenian yang terdapat di Kota Palembang yaitu:
Kesenian Dul Muluk adalah sebuah teater asli Sumatera Selatan yang muncul di Palembang. Kata Dul Muluk
sendiri berasal dari nama tokoh utamanya bernama Raja Abdulmuluk
Jauhari. Pertama kali Dul Muluk dibawa oleh seorang pedagang yang
bernama Wan Bakar seorang keturunan Arab. Selama berdagang, dia juga
membawa dan membacakan kitab bacaan yang berisi hikayat baik dalam
bentuk syair, salah satunya kitab syair Abdul Muluk. Ternyata kisah Raja
Abdul Muluk ini tersebar ke seluruh Kota Palembang dan sangat disukai
oleh masyarakat kota palembang sampai sekarang ini.
Gending Sriwijaya adalah tarian dan lagu tradisional Kota Palembang.
Biasanya dipentaskan untuk penyambutan tamu-tamu dalam resepsi
pernikahan. Gending Sriwijaya sendiri menggambarkan kejayaan, keagungan
dan keluhuran budaya kemaharajaan Sriwijaya.
Kesenian Syarofal Anam adalah salah satu kesenian yang bernuansa Islami yang biasa dipentaskan dalam resepsi pernikahan.
Lagu daerah misalnya Melati Karangan, Cuk Mak Ilang, Dek Sangke, Ribang Kemambang dan Dirut.
Rumah Limas dan Rumah Rakit adalah rumah adat khas Palembang.
Selain tersebut di atas, kain songket khas Palembang
adalah salah satu jenis tekstil terbaik yang ada di dunia, yand diukur
dari segi kualitasnya. Awal mula kain songket berasal dari perdagangan
antara India dan Tiongkok. Orang Cina membawa benang sutera dan orang
India membawa benag emas dan perak. Kemudian kain songket ditenun pada
sebuah alat tenun bingkai Melayu.
Namun menurut penenun dari Trengganu, orang-orang India lah yang
memperkenalkan teknik menenun pertama kalinya di Palembang. Namun ada
cerita lain yang menyebutkan, bahwa kain songket merupakan bukti lain
peninggalan Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya. Hingga saat ini,
kain songket masih dibuat menggunakan tenun secara manual. Warna yang
sering digunakan untuk kain songket yaitu, warna merah dan emas. Kedua
warna ini melambangkan zaman keemasan Sriwijaya dan pengaruh Cina pada
zaman dulu.
Selain kain songket, Palembang juga mengembangkan jenis tekstil baru
yaitu batik Palembang. Berbeda dengan batik-batik yang ada di Indonesia,
batik Palembang memiliki warna terang dan menggunakan motif tradisional
setempat.
Tiap tahun, Kota Palembang juga menyelenggarakan berbagai festival
seperti Festival Sriwijaya yang digelar dalam rangka Hari Jadi Kota
Palembang pada bulan Juni, Festival Bidar dan Perahu hias yang digelar
dalam rangka Hari Kemerdekaan RI dan festival-festival lainnya.
Wisata
Berikut adalah beberapa daftar tempat wisata yang bisa Anda kunjungi sebagai referensi ketika Anda berkunjung ke Kota Palembang.
Jembatan Ampera.
Benteng Kuto Besak.
Sungai Musi.
Monpera (Monumen Penderitaan Rakyat).
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I Palembang.
HARIANTERBIT.CO – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)
Klas I Sukamiskin, kini tengah menjadi pemberitaan di sejumlah media
cetak dan elektronik. Pasca mencuatnya berita yang terkait Anggoro
Widjojo seorang terpidana korupsi yang dengan bebas keluar-masuk dari
Lapas Sukamiskin, hanya untuk makan malam atau nginap di sebuah
apartemen di Kota Bandung. Ternyata itu hanya sepenggal peristiwa di
balik Lapas Sukamiskin.
Berdasarkan catatan dan pantauan HARIANTERBIT.co dari
beberapa berita yang belakangan muncul sebenarnya itu bukan peristiwa
baru terjadi di Lapas Sukamiskin. Bila kita ingat beberapa tahun lalu
Gayus Tambunan, dengan mudahnya keluar- masuk lapas, dan plesiran
beberapa hari keluar Kota Bandung, bahkan Gayus sempat membeli sebuah
rumah yang tak jauh dari lingkungan Lapas Sukamiskin.
Jadi tidak heran pula kalau seorang Rahmat Yasin, yang diberitakan
menyewa sebuah rumah mewah di kawasan Panorama Alam Parahyangan Kota
Bandung, yang tak jauh dari Lapas Sukamiskin itu. ‘Saung
etnik’ atau bangunan yang terbuat dari bambu-bambu unik layaknya sebuah
bungalow menjadi pemandangan mewah di balik Lapas Klas I Sukamiskin
Bandung.
Banyak peristiwa lainnya yang cukup mengejutkan di Lapas Sukamiskin
yang dikenal sebagai ‘penjara koruptor’. Betapa tidak, di balik tembok
bangunan peninggalan Belanda (Lapas Sukamiskin-red) ternyata kehidupan
para napi korupsi atau warga binaan di dalam lapas ini sangat mewah.
Mulai dari kamar mewah di tiap blok, yang mereka desain layaknya sebuah
kamar pribadi atau setara kamar hotel bintang tiga sampai pada sederet
‘saung etnik’ atau bangunan yang terbuat dari bambu-bambu unik layaknya
sebuah bungalow.
Belum lagi gaya kehidupan mewah di dalam Lapas Sukamiskin, seperti
Romi Herton mantan Wali Kota Palembang (Sumsel). Dikabarkan hampir
setiap sore Romi, selalu berada di halaman luar lapas. Berdasarkan
pantauan memang persis di depan lapas tersebut tertata taman-taman dan
saung lesehan berukuran sekitar 2×2 meter.
Tak hanya itu, konon Romi kerap membagi-bagi uang kepada siapa saja
yang datang mengunjunginya. Bahkan hebatnya lagi, dia masih bisa
mengendalikan sistem administrasi kepemerintahan Kota Palembang, dari
dalam Lapas Sukamiskin, kendati dirinya tidak lagi menjadi Wali Kota
Palembang.
Tidak heran pula bila melihat langsung ke dalam Lapas Sukamiskin,
terdapat taman satwa langka, seperti burung hantu, burung merak, ayam
hutan serta jenis unggas lainnya serta berderet saung bambu di atas
hamparan atau lahan perkebunan mini milik sang mantan Jenderal Polisi
(Kakorlantas) Djoko Susilo.
Singkatnya, jangan heran dengan kehidupan para napi korupsi di Lapas
Sukamiskin Bandung, yang semua serba mewah termasuk urusan
sandang-pangannya.
Atas peristiwa tersebut, mengutip pembicaraan Kepala Lembaga
Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas 1 Sukamiskin Dedi Handoko, membenarkan
jika terpidana kasus korupsi Anggoro Widjojo makan di sebuah apartemen
di Bandung. Namun, Dedi membantah jika yang bersangkutan melakukannya
berulang-ulang atau disebut sering keluar masuk.
Menurut Dedi, pihaknya juga telah meminta keterangan dari Anggoro di
lapas yang dihuni sejumlah terpidana kasus korupsi itu. Sebab, ada kabar
yang menyebut Anggoro kedapatan singgah ke apartemen di kawasan Jalan
Ahmad Yani dan disebut-sebut telah empat kali berkunjung.
Meski begitu, Dedi mengatakan, tetap perlu investigasi dan
penyelidikan untuk meyakini pengakuan kedua warga binaan itu. Sebab,
kata dia, warga binaan masih bisa melakukan penyimpangan meski menempuh
prosedur.
“Saya memberikan izin keluar untuk narapidana, pasti sesuai prosedur.
Misalnya berobat, harus ada rujukan dokter, kemudian kami sidangkan,
dan kalau keluar pun harus dikawal polisi. Itu prosedurnya, kalau di
luar bisa saja terjadi penyimpangan,” tandasnya. (ronny)
Kalapan Gunung Sindur Mujiarto saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Minggu 12/2 (dok. KM)
BOGOR (KM) – Kepala Lembaga Pemasyarakatan Gunung
Sindur, Kabupaten Bogor, membenarkan keberadaan mantan walikota
Palembang Romi Herton sebagai penghuni Blok A di Lapas Gunung Sindur
setelah sebelumnya menghuni lembaga pemasyarakatn Sukamiskin Bandung.
“Ia tiba di lapas Gunung Sindur jam 22:12 WIB. Setelah melalui
pemeriksaan berkas dan kesehatan, langsung ditempatkan di blok A, sama
seperti yang sebelumnya, Anggoro [Widjojo],” ujar Mujiarto kepada media
saat ditemui di ruang kerjanya di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 2A Gunung
Sindur, Bogor, Jumat (10/02).
Lebih lanjut, Mujiarto menjelaskan tidak mengetahui alasan terkait
kepindahan Romi dari lapas Sukamiskin ke lapas Gunung Sindur maupun
jangka waktu keberadaannya mendiami sel barunya itu. Ia juga menerangkan
bahwa Romi tidak mendapatkan perlakukan istimewa dibanding penghuni
lapas lainnya.
“Kalau alasan kita tidak tahu, coba ditanyain sama pihak lapas
Sukamiskin atau kantor wilayah Jawa Barat, mungkin sampai selesai masa
pidananya, karena saat pemindahan kita sifatnya hanya menerima. Untuk
perlakuan keamanan, kita perlakukan sama dengan yang lain,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa ruangan sel Blok A yang dihuni oleh Romi dipantau sepanjang hari oleh kepala regu pengaman lapas.
“Untuk fasiltas keamanan di dalam lapas, khusus Blok A emang berbeda
karena ada pengaman kunci otomatis yang dikendalikan oleh kepala regu
pengaman dan ada kamera CCTV sebanyak 50 titik yang mengawasi 24 jam,”
jelasnya.
Romi Herton adalah terpidana kasus suap hakim Mahkamah Konstitusi
Akil Mochtar untuk mempengaruhi putusan perkara permohonan keberatan
hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) kota Palembang yang saat itu
ditangani oleh Akil.
Romi Herton dan pasangannya, Harnojoyo, mengajukan keberatan ke MK
karena kalah 8 suara. Perkara itu ditangani Akil Mochtar bersama dengan
dua hakim anggota, yaitu Maria Farida Indrati dan Anwar Usman.
Romi Herton dan Masyitoh terbukti melakukan perbuatan sesuai dengan
dakwaan kesatu pertama yang berasal dari Pasal 6 ayat 1 huruf a atau
Pasal 13 UU No 13 tahun 1999 juncto pasal 20 tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 64
ayat 1 KUHP. (IRFAN DAMAR SINAGA)
Pelesiran, Anggoro cs Sogok Petugas Lapas Sukamiskin Rp 100 Ribu
news.detik.com , Kamis 09 Feb 2017, 22:06 WIB
akarta - Enam petugas Lapas
Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, terbukti melanggar prosedur pengawalan
narapidana saat berada di luar penjara. Mereka menerima uang Rp 100 ribu
sebagai imbalan melonggarkan proses pengawalan.
"Ada imbalan-imbalan dari napi, ngasih
makan, rokok, dan ada yang dikasih Rp 100 ribu. Sebagai uang pengganti
makan, itu saja," kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkum HAM Jabar
Molyanto di Lapas Sukamiskin, Kota Bandung, Kamis (9/2/2017).
Molyanto
menjelaskan, dengan uang sogokan itu, para napi lalu 'pelesiran' ke
tempat lainnya setelah berobat di rumah sakit. Seperti yang dilakukan
napi Anggoro Widjojo, Romi Herton, dan Rachmat Yasin.
Dia
melanjutkan, setiap napi yang minta izin keluar dari penjara akan
dikawal oleh seorang petugas lapas dan seorang polisi. Sesuai dengan
prosedur yang berlaku, keduanya harus mengikuti napi tersebut hingga
kembali ke lapas.
"Jadi istilahnya tidak boleh dibiarkan bergerak
sendiri, kecuali sedang diperiksa oleh dokter. Tapi, dalam kasus ini,
ada kelonggaran yang sengaja dilakukan," ucap dia.
"Tentunya
dalam hal ini juga ada niat dari napi untuk melakukan indisipliner.
Memanfaatkan ketidakdisiplinan petugas," tambahnya.
Buntut dari
pelesiran tersebut, kata Molyanto, pihaknya sudah memindahkan Anggoro
Widjojo dan Romi Herton ke Lapas Gunung Sindur, Bogor. Keduanya akan
ditempatkan di blok khusus napi nakal atau hairis.
"Untuk
Rachmat Yasin kita sedang kaji karena keluarnya sekali saja, 15
Desember 2016. Sanksinya akan dikeluarkan, mungkin dipindahkan, mungkin
juga tidak," ujar Molyanto.
(idh/fdn)